Jumat, 19 September 2008

Mengupas Misteri Keajaiban Air ZAM ZAM

Selama ini kita mengenal sumur Zamzam dari buku-buku agama. Namun sebenarnya ada sisi ilmiah saintifiknya juga looh. Cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang air adalah hydrogeologi.

Sedikit cerita Pra-Islam, atau sebelum kelahiran Nabi Muhammad, diawali dengan kisah Isteri dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar, yang mencari air untuk anaknya yang cerita selanjutnya bisa ditanyakan ke Wak haji ya…:-) Sumur ini kemudian tidak banyak atau bahkan tidak ada ceritanya, sehingga sumur ini dikabarkan hilang.

Sumur Zam-zam yang sekarang ini kita lihat adalah sumur yang digali oleh Abdul Muthalib kakeknya Nabi Muhammad. Sehingga saat ini, dari “ilmu persumuran” maka sumur Zam-zam termasuk kategori sumur gali (Dug Water Well).

Dimensi dan Profil Sumur Zam-zam
——————————————————-
Bentuk sumur Zam-zam dapat dilihat dibawah ini.

Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 30.5 meter. Hingga kedalaman 13.5 meter teratas menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim. Lapisan ini merupakan lapisan pasir yang sangat berpori. Lapisan ini berisi batupasir hasil transportasi dari lain tempat. Mungkin saja dahulu ada lembah yang dialiri sungai yang saat ini sudah kering. Atau dapat pula merupakan dataran rendah hasil runtuhan atau penumpukan hasil pelapukan batuan yang lebih tinggi topografinya.

Mata air zamzam

Dibawah lapisan alluvial Wadi Ibrahim ini terdapat setengah meter (0.5 m) lapisan yang sangat lulus air (permeable). Lapisan yang sangat lulus air inilah yang merupakan tempat utama keluarnya air-air di sumur Zam-zam.

Kedalaman 17 meter kebawah selanjutnya, sumur ini menembus lapisan batuan keras yang berupa batuan beku Diorit. Batuan beku jenis ini (Diorit) memang agak jarang dijumpai di Indonesia atau di Jawa, tetapi sangat banyak dijumpai di Jazirah Arab. Pada bagian atas batuan ini dijumpai rekahan-rekahan yang juga memiliki kandungan air. Dulu ada yang menduga retakan ini menuju laut Merah. Tetapi tidak ada (barangkali saja saya belum menemukan) laporan geologi yang menunjukkan hal itu.

Dari uji pemompaan sumur ini mampu mengalirkan air sebesar 11 - 18.5 liter/detik, hingga permenit dapat mencapai 660 liter/menit atau 40 000 liter per jam. Celah-celah atau rekahan ini salah satu yang mengeluarkan air cukup banyak. Ada celah (rekahan) yang memanjang kearah hajar Aswad dengan panjang 75 cm denga ketinggian 30 cm, juga beberapa celah kecil kearah Shaffa dan Marwa.

Keterangan geometris lainnya, celah sumur dibawah tempat Thawaf 1.56 m, kedalaman total dari bibir sumur 30 m, kedalaman air dari bibir sumur = 4 m, kedalaman mata air 13 m, Dari mata air sampai dasar sumur 17 m, dan diameter sumur berkisar antara 1.46 hingga 2.66 meter.

Air hujan sebagai sumber berkah
——————————————————

Kota Makkah terletak di lembah, menurut SGS (Saudi Geological Survey) luas cekungan yang mensuplai sebagai daerah tangkapan ini seluas 60 Km2 saja, tentunya tidak terlampau luas sebagai sebuah cekungan penadah hujan. Sumber air Sumur Zam-zam terutama dari air hujan yang turun di daerah sekitar Makkah.

Sumur ini secara hydrologi hanyalah sumur biasa sehingga sangat memerlukan perawatan. Perawatan sumur ini termasuk menjaga kualitas higienis air dan lingkungan sumur serta menjaga pasokan air supaya mampu memenuhi kebutuhan para jamaah haji di Makkah. Pembukaan lahan untuk pemukiman di seputar Makkah sangat ditata rapi untuk menghindari berkurangnya kapasitas sumur ini.

Gambar diatas memperlihatkan lokasi sumur Zamzam yang terletak ditengah lembah yang memanjang. Masjidil haram berada di bagian tengah diantara perbukitan-perbukitan disekitarnya. Luas area tangkapan yang hanya 60 Km persegi ini tentunya cukup kecil untuk menangkap air hujan yang sangat langka terjadi di Makkah, sehingga memerlukan pengawasan dan pemeliharaan yang sangat khusus.

Sumur Zamzam ini, sekali lagi dalam pandangan (ilmiah) hidrogeologi , hanyalah seperti sumur gali biasa. Tidak terlalu istimewa dibanding sumur-sumur gali lainnya. Namun karena sumur ini bermakna religi, maka perlu dijaga. Banyak yang menaruh harapan pada air sumur ini karena sumur ini dipercaya membawa berkah. Ada yang menyatakan sumur ini juga bisa kering kalau tidak dijaga. Bahkan kalau kita tahu kisahnya sumur ini diketemukan kembali oleh Abdul Muthalib (kakeknya Nabi Muhammad SAW) setelah hilang terkubur 4000 tahun (?).

Dahulu diatas sumur ini terdapat sebuah bangunan dengan luas 8.3 m x 10.7 m = 88.8 m2. Antara tahun 1381-1388 H bangunan ini ditiadakan untuk memperluas tempat thawaf. Sehingga tempat untuk meminum air zamzam dipindahkan ke ruang bawah tanah. Dibawah tanah ini disediakan tempat minum air zam-zam dengan sejumlah 350 kran air (220 kran untuk laki-laki dan 130 kran untuk perempuan), ruang masuk laki perempuan-pun dipisahkan.

Saat ini bangunan diatas sumur Zam-Zam yang terlihat gambar diatas itu sudah tidak ada lagi, bahkan tempat masuk ke ruang bawah tanah inipun sudah ditutup. Sehingga ruang untuk melakukan ibadah Thawaf menjadi lebih luas. Tetapi kalau anda jeli pas Thawaf masih dapat kita lihat ada tanda dimana sumur itu berada. Sumur itu terletak kira-kira 20 meter sebelah timur dari Ka’bah.

Monitoring dan pemeliharaan sumur Zamzam
———————————————————————-
Jumlah jamaah ke Makkah tiga puluh tahun lalu hanya 400 000 pertahun (ditahun 1970-an), terus meningkat menjadi lebih dari sejuta jamaah pertahun di tahun 1990-an, Dan saat ini sudah lebih dari 2.2 juta. Tentunya diperlukan pemeliharaan sumur ini yang merupakan salah satu keajaiban dan daya tarik tersendiri bagi jamaah haji.

Pemerintah Saudi tentunya tidak dapat diam pasrah saja membiarkan sumur ini dipelihara oleh Allah melalui proses alamiah. Namun pemerintah Arab Saudi yang sudah moderen saat ini secara ilmiah dan saintifik membentuk sebuah badan khusus yang mengurusi sumur Zamzam ini. Sepertinya memang Arab Saudi juga bukan sekedar percaya saja dengan menyerahkan ke Allah sebagai penjaga, namun justru sangat meyakini manusialah yang harus memelihara berkah sumur ini.

Pada tahun 1971 dilakukan penelitian (riset) hidrologi oleh seorang ahli hidrologi dari Pakistan bernama Tariq Hussain and Moin Uddin Ahmed. Hal ini dipicu oleh pernyataan seorang doktor di Mesir yang menyatakan air Zamzam tercemar air limbah dan berbahaya untuk dikonsumsi. Tariq Hussain (termasuk saya dari sisi hidrogeologi) juga meragukan spekulasi adanya rekahan panjang yang menghubungkan laut merah dengan Sumur Zam-zam, karena Makkah terletak 75 Kilometer dari pinggir pantai. Menyangkut dugaan doktor mesir ini, tentusaja hasilnya menyangkal pernyataan seorang doktor dari Mesir tersebut, tetapi ada hal yang lebih penting menurut saya yaitu penelitian Tariq Hussain ini justru akhirnya memacu pemerintah Arab Saudi untuk memperhatikan Sumur Zamzam secara moderen. Saat ini banyak sekali gedung-gedung baru yang dibangun disekitar Masjidil Haram, juga banyak sekali terowongan dibangun disekitar Makkah, sehingga saat ini pembangunannya harus benar-benar dikontrol ketat karena akan mempengaruhi kondisi hidrogeologi setempat.

Badan Riset sumur Zamzam yang berada dibawah SGS (Saudi Geological Survey) bertugas untuk:

* Memonitor dan memelihara untuk menjaga jangan sampai sumur ini kering.
* Menjaga urban disekitar Wadi Ibrahim karena mempengaruhi pengisian air.
* Mengatur aliran air dari daerah tangkapan air (recharge area).
* Memelihara pergerakan air tanah dan juga menjaga kualitas melalui bangunan kontrol.
* Meng-upgrade pompa dan dan tangki-tangki penadah.
* Mengoptimasi supplai dan distribusi airZam-zam

Perkembangan perawatan sumur Zamzam.
——————————————————————

Dahulu kala, zamzam diambil dengan gayung atau timba, namun kemudian dibangunlah pompa air pada tahun 1373 H/1953 M. Pompa ini menyalurkan air dari sumur ke bak penampungan air, dan diantaranya juga ke kran-kran yang ada di sekitar sumur zamzam.

Uji pompa (pumping test) telah dilakukan pada sumur ini, pada pemompaan 8000 liters/detik selama lebih dari 24 jam memperlihatkan permukaan air sumur dari 3.23 meters dibawah permukaan menjadi 12.72 meters dan kemudian hingga 13.39 meters. Setelah itu pemompaan dihentikan permukaan air ini kembali ke 3.9 meters dibawah permukaan sumur hanya dalam waktu 11 minut setelah pompa dihentikan. Sehingga dipercaya dengan mudah bahwa akifer yang mensuplai air ini berasal dari beberapa celah (rekahan) pada perbukitan disekitar Makkah.

Banyak hal yang sudah dikerjakan pemerintah Saudi untuk memelihara Sumur ini antara lain dengan membentuk badan khusus pada tahun 1415 H (1994). dan saat ini telah membangun saluran untuk menyalurkan air Zam-zam ke tangki penampungan yang berkapasitas 15.000 m3, bersambung dengan tangki lain di bagian atas Masjidil Haram guna melayani para pejalan kaki dan musafir. Selain itu air Zam-zam juga diangkut ke tempat-tempat lain menggunakan truk tangki diantaranya ke Masjidil Nabawi di Madinah Al-Munawarrah.

Saat ini sumur ini dilengkapi juga dengan pompa listrik yang tertanam dibawah (electric submersible pump). Kita hanya dapat melihat foto-fotonya saja seperti diatas. Disebelah kanan ini adalah drum hidrograf, alat perekaman perekaman ketinggian muka air sumur Zamzam (Old style drum hydrograph used for recording levels in the Zamzam Well).

Kandungan mineral
———————————–
Tidak seperti air mineral yang umum dijumpai, air Zamzam in memang unik mengandung elemen-elemen alamiah sebesar 2000 mg perliter. Biasanya air mineral alamiah (hard carbonated water) tidak akan lebih dari 260 mg per liter. Elemen-elemen kimiawi yang terkandng dalam air Zamzam dapat dikelompokkan menjadi
Yang pertama, positive ions seperti misal sodium (250 mg per litre), calcium (200 mg per litre), potassium (20 mg per litre), dan magnesium (50 mg per litre).
Kedua, negative ions misalnya sulphur (372 mg per litre), bicarbonates (366 mg per litre), nitrat (273 mg per litre), phosphat (0.25 mg per litre) and ammonia (6 mg per litre).

Molekul air zam zam

Kandungan-kandungan elemen-elemen kimiawi inilah yang menjadikan rasa dari air Zamzam sangat khas dan dipercaya dapat memberikan khasiat khusus. Air yang sudah siap saji yang bertebaran disekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah merupakan air yang sudah diproses sehingga sangat aman dan segar diminum, ada yang sudah didinginkan dan ada yang sejuk (hangat). Namun konon prosesnya higienisasi ini tidak menggunakan proses kimiawi untuk menghindari perubahan rasa dan kandungan air ini.

Minggu, 07 September 2008

Munajat Hari Ini

Ya Allah ya Tuhanku,

Tidak ada komputer sehebat apapun yang sanggup mendata bilangan
tumbuhan, hewan dan manusia dengan cermat dalam satu masa ataupun
dalam setiap pergantian masa. Tidak ada alat hitung secanggih apapun
yang mampu menghitung butiran tanah, pasir, kerikil dan bebatuan.
Tidak ada alat hitung apapun yang dapat mengetahui jumlah
bintang-bintang di langit terdekat maupun di langit terjauh. Akan
tetapi Engkau maha mengetahui semua itu. Engkau mengetahui hingga
detil jumlah dan bilangan setiap makhluk yang Engkau ciptakan, yang
nampak maupun yang ghaib.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta wa
astaghfiruka wa atubu ilayka, amin.

Air Kencing : Penyebab kebanyakan siksa kubur.

Ibnu Abbas ra mengisahkan bahwa suatu hari Rasulullah saw melintasi
dua makam, lalu beliau berkata, "Sesungguhnya mereka berdua sedang
disiksa, mereka bedua disiksa bukan disebabkan melakukan dosa besar.
Salah satu dari mereka disiksa karena tidak sampai bersih saat bersuci
dari buang air kecil."
Seorang perempuan Yahudi mendatangi Aisyah seraya berkata,
"Sesungguhnya azab kubur itu disebabkan air kencing." Mendengar
perkataannya, Aisyah berkata, "Engkau bohong." Perempuan Yahudi itu
menjelaskan, "Karena air kencing itu mengenai kulit dan pakaian."
Kemudian Rasulullah saw keluar untuk mengerjakan shalat, sedangkan
suara kami semakin keras terdengar (karena ribut). Mendengar keributan
ini Rasulullah saw bertanya, "Ada apa ini?" Aisyah pun meceritakan
kepadanya apa yang telah dikatakan oleh perempuan Yahudi tadi, setelah
itu Rasulullah saw bersabda, "Dia memang benar."
Abdurrahman bin Hasaah mendengar Rasulullah saw bertanya, "Tahukah
kalian apa yang telah menimpa salah seorang Bani Israil? Dulu, saat
mereka terkena air kencing, mereka segera membersihkannya dengan
memotong pakaian yang terkena cipratan air kencing tersebut. Melihat
perbuatan ini, orang itu melarang mereka, maka dia pun diadzab dalam
kuburnya.
Dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Huraihah ra secara mauquf,
Rasulullah saw bersabda, " Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan air
kencing."

Pada suatu malam Abdullah bin Umar pergi ke rumah seorang perempuan
tua yang di samping rumahnya terdapat pemakaman. Lalu dia mendengar
suara lirih yang berkata, "Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu
gayung?" Abdullah bin Umar pun berkata, "Celaka, apa yang terjadi?"
Perempuan tua itu menjawab, "Itu adalah suara suamiku yang tidak
pernah bersuci dari buang air kecil." Mendengar penjelasan tersebut,
Abdullah bin Umar berkata, "Celakalah dia! Unta saja alau kencing
bersuci, tapi dia malah tidak peduli." Perempuan tua itu kembali
menuturkan kisah suaminya : Ketika suamiku sedang duduk, ada seorang
lelaki mendatanginya seraya berkata, "Berilah aku minum, aku sangat
haus." Suamiku malah berkata, "Engkau membawa gayung sedangkan gayung
kami tergantung." Orang itu berkata, "Wahai tuan, berilah aku minum,
aku hampir mati kehausan." Suamiku berkata, "Engkau membawa gayung."
Akhirnya lelaki yang meminta air untuk minum itu meninggal dunia.
Setelah itu, suamiku juga meninggal dunia. Namun sejak hari pertama
dia meniggal dunia, seringkali terdengar suara suamiku dari arah
pemakaman, "Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu gayung?"

* Nauzubillah min dzalik, ternyata perkara kecil saja bisa menyebabkan
kita mendapat siksa kubur ya? Banyak orang memandang remeh bersuci
setelah buang air kecil (kurang bersih bahkan tidak bersuci sama
sekali), padahal hal yang remeh itu bisa menjadi malapetaka ketika
kita masuk pada Alam Barzakh.

"Ya Allah, lindungi kami semua dari siksa neraka, siksa kubur, fitnah
dunia & alam barzakh, serta fitnah yang ditimbulkan oleh dajjal, amin."

Minggu, 31 Agustus 2008

27: BERPEGANG KEPADA MAKAM




JANGAN MEMINTA KEPADA ALLAH S.W.T SUPAYA DIPINDAHKAN DARI SATU HAL KEPADA HAL YANG LAIN, SEBAB JIKA ALLAH S.W.T MENGKEHENDAKI DIPINDAHKAN KAMU TANPA MERUBAH KEADAAN KAMU YANG LAMA.

Hal adalah pengalaman hati tentang hakikat. Hal tidak boleh didapati melalui amal dan juga ilmu. Tidak boleh dikatakan bahawa amalan menurut tarekat tasauf menjamin seseorang murid memperolehi hal. Latihan secara tarekat tasauf hanya menyucikan hati agar hati itu menjadi bekas yang sesuai bagi menerima kedatangan hal-hal (ahwal). Hal hanya diperolehi kerana anugerah Allah s.w.t. Mungkin timbul pertanyaan mengapa ditekankan soal amal seperti yang dinyatakan dalam Hikmat yang lalu sedangkan amal itu sendiri tidak menyampaikan kepada Tuhan?

Perlu difahami bahawa seseorang hamba tidak mungkin berjumpa dengan Tuhan jika Tuhan tidak mahu bertemu dengannya. Tetapi, jika Tuhan mahu menemui seseorang hamba maka dia akan dipersiapkan agar layak berhadapan dengan Tuhan pada pertemuan yang sangat suci dan mulia. Jika seorang hamba didatangi kecenderungan untuk menyucikan dirinya, itu adalah tanda bahawa dia diberi kesempatan untuk dipersiapkan agar layak dibawa berjumpa dengan Tuhan. Hamba yang bijaksana adalah yang tidak melepaskan kesempatan tersebut, tidak menunda-nunda kepada waktu yang lain. Dia tahu bahawa dia menerima undangan dari Tuhan Yang Maha Mulia, lalu dia menyerahkan dirinya untuk dipersiapkan sehingga kepada tahap dia layak menghadap Tuhan sekalian alam. Makam di mana hamba dipersiapkan ini dinamakan aslim atau menyerah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tuhan yang tahu bagaimana mahu mempersiapkan hamba yang Dia mahu temui. Tujuan amalan tarekat tasauf ialah mempersiapkan para hamba agar berkeadaan bersiap sedia dan layak untuk dibawa berjumpa dengan Tuhan (memperolehi makrifat Allah s.w.t). Walaupun hal merupakan anugerah Allah s.w.t semata-mata, tetapi hal hanya mendatangi hati para hamba yang bersedia menerimanya.

Murid atau salik yang memperolehi hal akan meningkatkan ibadatnya sehingga suasana yang dicetuskan oleh hal itu sebati dengannya dan membentuk keperibadian yang sesuai dengan cetusan hal tersebut. Hal yang menetap itu dinamakan makam. Hal yang diperolehi dengan anugerah bila diusahakan akan menjadi makam. Misalnya, Allah s.w.t mengizinkan seorang salik mendapat hal di mana dia merasai bahawa dia sentiasa berhadapan dengan Allah s.w.t, Allah s.w.t melihatnya zahir dan batin, mendengar ucapan lidahnya dan bisikan hatinya. Salik memperteguhkan daya rasa tersebut dengan cara memperkuatkan amal ibadat yang sedang dilakukannya sewaktu hal tersebut datang kepadanya, sama ada ianya sembahyang, puasa atau zikir, sehingga daya rasa tadi menjadi sebati dengannya. Dengan demikian dia mencapai makam ihsan.

Satu sifat semula-jadi manusia adalah tergesa-gesa, bukan sahaja dalam perkara duniawi malah dalam perkara ukhrawi juga. Salik yang rohaninya belum mantap masih dibaluti oleh sifat-sifat kemanusiaan. Apabila dia mengalami satu hal dia akan merasai nikmatnya. Rindulah dia untuk menikmati hal yang lain pula. Lalu dia memohon kepada Allah s.w.t supaya ditukarkan halnya. Sekiranya hal yang datang tidak diperteguhkan ia tidak menjadi makam. Bila hal berlalu ia menjadi kenangan, tidak menjadi keperibadian. Meminta perubahan kepada hal yang lain adalah tanda kekeliruan dan boleh membantut perkembangan kerohanian.

Kekuatan yang paling utama adalah berserah kepada Allah s.w.t, reda dengan segala lakuan-Nya. Biarkan Allah Yang Maha Mengerti menguruskan kehidupan kita. Sebaik-baik perbuatan adalah menjaga makam yang kita sedang berada di dalamnya. Jangan meminta makam yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semakin hampir dengan Allah s.w.t semakin hampir dengan bahaya yang besar, iaitu dicampak keluar dari majlis-Nya sesiapa yang tidak tahu menjaga kesopanan bermajlis dengan Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Oleh yang demikian, tunduklah kepada kemuliaan-Nya dan berserahlah kepada kebijaksanaan-Nya, nescaya Dia akan menguruskan keselamatan dan kesejahteraan para hamba-Nya.

26: MENUNDA AMAL TANDA KEBODOHAN



MENUNDA AMAL KEBAIKAN KERANA MENANTIKAN KESEMPATAN YANG LEBIH BAIK ADALAH TANDA KEBODOHAN.

Hikmat yang lalu memaparkan kebodohan yang timbul kerana kejahilan tentang kekuasaan Tuhan. Hikmat 26 ini pula memaparkan kebodohan yang timbul lantaran kelalaian. Orang yang mabuk dibuai oleh ombak kelalaian tidak dapat melihat bahawa pada setiap detik pintu rahmat Allah s.w.t sentiasa terbuka dan Allah s.w.t sentiasa berhadap kepada hamba-hamba-Nya. Setiap saat adalah kesempatan dan tidak ada kesempatan yang lebih baik daripada kesempatan yang memperlihatkan dirinya kepada kita. Kesempatan yang paling baik ialah kesempatan yang kita sedang berada di dalamnya.

Kelalaian adalah buah kepada panjang angan-angan. Panjang angan-angan pula datangnya dari pokok kurang ingatan kepada mati. Jadi, ubat yang paling mujarab untuk mengubati penyakit kelalaian ialah memperbanyakkan ingatan kepada mati. Apabila ingatan kepada mati sudah kuat maka seseorang itu tidak akan mengabaikan kesempatan yang ada baginya untuk melakukan amal salih.

Hikmat ke 26 jika ditafsir secara umum menganjurkan agar segala amal kebaikan hendaklah dilakukan dengan segera tanpa bertangguh-tangguh. Jika diperhatikan Kalam-kalam Hikmat yang lalu dapat difahamkan bahawa Hikmat yang dipaparkan berperanan membimbing seseorang pada jalan kerohanian. Amal yang ditekankan adalah amal yang berhubung dengan pembentukan rohani. Hikmat 27 nanti akan memperkatakan tentang makam iaitu suasana kerohanian. Jadi, jika ditafsir secara khusus Hikmat 26 ini menganjurkan bersegera melakukan amal-amal yang perlu bagi menyediakan hati untuk menerima kedatangan hal-hal dan seterusnya mencapai makam-makam. Amal yang berkenaan ialah latihan kerohanian menurut tarekat tasauf. Latihan yang demikian harus disegerakan sebaik sahaja mendapat kesempatan, tanpa menanti kedatangan kesempatan yang lain yang diharapkan lebih baik dan lebih sesuai.

Ketika menjalani latihan kerohanian secara tarekat tasauf kehidupan hanya dipenuhi dengan amal ibadat seperti sembahyang, puasa, berzikir dan lain-lain Semua amalan tersebut dilakukan bukan bertujuan untuk mengejar syurga tetapi semata-mata untuk mendapatkan keredaan Allah s.w.t dan mendekatkan diri kepada-Nya. Amalan seperti inilah yang membuka pintu hati untuk berpeluang mengalami hal-hal yang membawa kepada hasil yang diharapkan iaitu makrifatullah. Sesiapa yang benar-benar ingin mencari keredaan Allah s.w.t dan berhasrat untuk menghampiri-Nya serta mengenali-Nya hendaklah jangan bertangguh-tangguh lagi. Usah dicari kesempatan yang lebih baik. Jangan menjadikan masalah keduniaan sebagai alasan untuk menunda tindakan bergiat mencari keredaan Allah s.w.t. Bulatkan tekad, kuatkan azam, masuklah ke dalam golongan ahli Allah s.w.t yang beramal dan bekerja semata-mata kerana Allah s.w.t. Benamkan diri sepenuhnya ke dalam suasana ‘Allah’ semata-mata dan tinggalkan apa sahaja yang selain Allah s.w.t buat seketika. Anggapkan latihan yang demikian seperti keadaan ketika menunaikan fardu haji di Tanah Suci. Selama di Tanah Suci, segala-galanya ditinggalkan di tanah air sendiri. Di hadapan Baitullah seorang hamba menghadap dengan sepenuh jiwa raga kepada Tuhannya. Dia tidak khuatirkan keluarga, harta dan pekerjaan yang ditinggalkan kerana semuanya sudah diserahkannya kepada penjagaan Allah s.w.t. Allah s.w.t adalah Pemegang amanah yang paling baik. Dia menjaga dengan sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepada-Nya. Syarat penyerahan itu adalah keyakinan.

Perlu juga dinyatakan bahawa latihan kerohanian secara tarekat tasauf bukanlah satu-satunya jalan kepada Allah s.w.t. Tujuan utama latihan secara tasauf adalah untuk mendapatkan ikhlas dan penyerahan yang menyeluruh kepada Allah s.w.t. Ikhlas dan penyerahan boleh juga diperolehi walaupun tidak menjalani tarekat tasauf tetapi tanpa latihan khusus pembentukan hati kepada suasana yang demikian adalah sukar dilakukan.

Jalan yang tidak ada latihan khusus adalah jalan kehidupan harian. Pada jalan ini orang yang beriman perlu bekerja kuat untuk menjalankan peraturan Islam dan mempertahankan iman. Pancaroba dalam kehidupan harian sangat banyak dan orang yang beriman perlu berjalan dicelah-celahnya, menjaga diri agar tidak tertawan dengan penggoda. Kewaspadaan dalam kehidupan harian itu adalah sifat takwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang mulia pada sisi Allah s.w.t.

Walau jalan mana yang dilalui matlamatnya adalah memperolehi ikhlas, berserah diri dan bertakwa.